Label

Pengikut

Total Tayangan Laman

Kamis, 22 Desember 2011

Raul: Pangeran di Madrid, Bangsawan di Gelsenkirchen

Rossi Finza Noor - detikSport
Rabu, 21/12/2011 12:40 WIB
 
Gelsenkirchen - Rumah adalah tempat di mana hati kita berada, begitu yang sering diucapkan banyak orang. Bagi Raul Gonzalez, seseorang yang pernah menjadi pangeran di Santiago Bernabeu, hatinya kini telah menemukan kenyamanan di Gelsenkirchen, tempat Schalke berada.

Raul pernah menikmati gelimang puja-puji dan prestasi kala dirinya bermain untuk Real Madrid, tempat di mana ia nyaris menghabiskan seluruh karier sepakbolanya. Pelatih boleh datang dan pergi, pemain boleh dibeli dan dijual, tetapi tak ada yang bisa mengusik tempat Raul.

Sampai akhirnya datang suatu masa di pertengahan tahun 2010. Sudah berusia 33 tahun, sang pangeran Bernabeu memilih untuk meninggalkan istananya yang nyaman itu. Ia tak mau menjadi nomor dua di dalam istananya sendiri--atau dalam bahasa sepakbola, tak mau hanya jadi pemain cadangan.

Schalke pun menjadi tujuan barunya. The Royal Blues, begitu mereka memanggil klub itu sebagai julukan. Tampak cukup "ningrat" untuk sang pangeran, dan cerita pun terus bergulir bak dongeng. Ia kini menjadi bagian dari 'Si Bangsawan Biru'.

Keistimewaan di Schalke memang tak seperti yang ia terima ketika di Madrid. Di sini, Raul harus memungut sendiri respek untuk dirinya. Dan ia pun berhasil melakukannya. Raul dibiarkan bermain sesuai dengan talenta naturalnya; mendapatkan free-role di belakang posisi striker dan demikianlah sekarang hasilnya. Raul mampu memenangi hati publik Vetins-Arena dan begitu juga sebaliknya.

"Dia memainkan permainan kelas satu dan para fans mencintainya. Saya tak tahu apa yang dimintanya, tetapi sebuah kontrak bisa disusun dengan kreatif," ujar Direktur Olahraga Schalke Horst Held di Guardian. Ya, Raul direncanakan akan segara mendapatkan kontrak baru.

Bernyanyi dan Mencetak Gol

Di luar lapangan, di luar statusnya sebagai punggawa The Royal Blues, Raul juga tampak menikmati kehidupannya sebagai rakyat jelata (baca: orang biasa) di luar.

Dan itu terlihat pada sebuah pesta menjelang Natal yang diadakan oleh para pemain Schalke. Mereka berkaraoke, bernyanyi, dan Raul yang belum terlalu fasih berbahasa Jerman ketiban sial diminta menyanyikan sebuah lagu berbahasa Jerman.

"Itu lagu tradisional Schalke," ucap Raul sembari tersenyum. Ia mengaku tak tahu-menahu apa yang ia nyanyikan dan apa pula artinya, namun ia tetap saja menyanyikannya.

"Saya sangat suka berada di sini. Saya bisa melihat diri saya menetap di sini. Saya tak pernah berpikir bahwa orang-orang bakal memperlakukan saya dengan respek besar. Semua orang sudah sangat baik kepada saya," katanya kemudian.

Dan nyanyian lebih nyaring terdengar dalam bahasa yang lebih mudah dipahami di lapangan; sepakbola dan gol. Raul menutup laga Schalke sebelum winter-break dengan lecutan tiga gol ke gawang Werder Bremen. Schalke menang 5-0 pada pertandingan tersebut.

Manajer Huub Stevens senang melihat kolaborasinya dengan Klaas-Jan Huntelaar dan Teemu Pukki. Baginya, Raul adalah sosok yang pas untuk melengkapi skema timnya sebagai seorang pemain di belakang striker.

"Saya tak pernah meminta seorang pemain melawan talenta naturalnya," tukas Stevens.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar