Label

Pengikut

Total Tayangan Laman

Jumat, 20 Juli 2012

Dialog Hatim Al-Ashom & Syaqiq Al-Balkhy Soal 8 Hikmah Kehidupan

sumber:   Selasa, 17/07/2012 13:03 WIB Emka Shofa - detikRamadan

Jakarta - Hatim Al-Ashom adalah murid dari Syekh Syaqiq Al-Balkhy. Suatu ketika Syekh Syaqiq bertanya pada Hatim:

Syaqiq: Wahai Hatim, berapa tahun kamu menemaniku?

Hatim: Tiga puluh tiga tahun. 

Syaqiq: Ilmu apa yang telah engkau hasilkan, dan berapa banyak faidah yang telah engkau ambil dariku?

Hatim:
Aku menghasilkan delapan faidah

Syaqiq: Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, wahai Hatim! Aku menghabiskan umurku dalam mendidikmu dan engkau hanya menghasilkan dariku kecuali delapan faidah ini?
Hatim: Wahai guruku, bila engkau menuntut kejujuran dariku, maka aku tidak menghasilkan kecuali apa yang aku katakan dan aku tidak menuntut yang lainnya, karena sungguh aku yaqin tidak bisa aman dan selamat dunia-akhirat kecuali delapan ini, dan lainnya telah dicukupkan dengannya.

Syaqiq: Katakanlah padaku apa faidah delapan ini?

Hatim: 1. ku melihat para makhluk dan aku melihat di antaranya ada yang memilih kekasih tercintanya, ada pula yang menemani kekasihnya sampai ajal menjemput hingga di sisi kuburnya. Setelah itu berpamitan lalu kembali dan tidak mau mengikuti masuk kubur bersama kekasihnya. Aku berfikir agar menemukan kekasih yang kelak menjadi teman dan mau menemani dalam kubur, maka aku tak menemukannya kecuali amal baik. Maka aku memilih amal baik dan kujadikannya sebagai kekasih yang mau menemani dalam kubur.

Syaqiq: Engkau telah berbuat baik, wahai hatim

Hatim: 2. Aku melihat makhluk maka aku mendapatinya hawa nafsu pada mereka. Aku berfikir dalam firman Allah (yang artinya): "Dan barang siapa takut pada derajat Tuhannya dan mencegah hati dari hawa nafsu, maka sungguh surga adalah tempatnya". Aku yaqin bahwa Alquran adalah benar dan aku menyelisihi nafsu yang mengajak keburukan, memperkuat ucapan dalam memerangi hawa nafsu, dan tak memberi kebutuhan dan keinginan hawa nafsu hingga mau menurut di bawah ketaatan Allah yang haq.

Syaqiq: Semoga Allah menambah kebaikan padamu

Hatim: 3. Aku melihat makhluk ini lalu kudapati tiap salah satunya melakukan jerih payah untuk mendapatkan sesuatu dari harta dunia, kemudian apa yang mereka peroleh selalu dijaganya lalu bersuka ria karena berprasangka telah mendapatkan sesuatu yang diburunya. Aku angan-angan akan firman Allah: "Sesuatu yang di sisi kalian akan sirna, dan sesuatu di sisi Allah akan kekal". Oleh karenanya, sesuatu yang aku hasilkan dan kumpulkan beberapa tahun maka aku sedekahkan pada fakir dan kujadikan titipan di sisi Allah agar kekal, menjadi bekal, dan harta simpanan akhiratku.

Syaqiq: Engkau telah berbuat baik

Hatim: 4. Aku melihat alam ini lalu kulihat kaum manusia menyangka bahwa keluhuran dan kemuliaan manusia karena banyaknya kerabat dan handai tolan lalu bersombong dengannya, kaum yang menyangka bahwa kemuliaan dan kehormatan karena banyak harta dan anak lalu bersombong dengannya, dan kaum yang menyangka bahwa derajat dan terhormat diperoleh dengan marah, misuh, memukul, dan mengalirkan darah lalu bersombong dengannya. Aku teringat firman Allah: "Sungguh kemuliaan kalian di sisi Allah adalah yang paling takwa kalian". Aku yakin alquran adalah benar walaupun makhluk menganggapnya salah. Maka aku pilih takwa hingga agar aku di sisi Allah termasuk dari golongan yang mulia.

Syaqiq: Engkau telah berbuat baik

Hatim: 5. Aku melihat makhluk lalu kudapati kaum yang marah dan dengki di antara mereka dengan sebab cinta harta dan tahta, aku berfikir dalam firman Allah: "Aku (Allah) telah membagi pangan (maisyah) di antara mereka di kehidupan dunia". Sungguh aku percaya pembagian ini telah ditetapkan sejak zaman azali (dahulu), tak ada hak seorang pun memilih sesukanya, maka aku tiadalah dengki pada seorang pun setelahnya (mengetahui kepastian pembagian). Aku rela dengan pembagian Allah swt dan berdamai dengan ahli dunia.

Syaqiq: Engkau telah berbuat baik

Hatim: 6.Aku melihat alam ini lalu kulihat sebagian makhluk memusuhi lainnya sebab tujuan nafsu dan gangguan setan. Aku teringat firman Allah: "Sungguh setan bagi kalian adalah musuh, maka ambilah dia sebagai musuh kalian". Aku yakin Alquran benar, selain setan dan pengikutnya bukanlah musuh, maka aku ambil setan sebagai musuhku, dan tak aku taati perintahnya. Aku mentaati perintah Allah taala dan mengagungkan-Nya, dan tak memusuhi seorangpun dari makhluk-Nya. Dan juga jalan yang lurus sesuai firman-Nya: "Apakah aku tidak berjanji pada kalian wahai bani Adam agar tidaklah kalian menyembah setan, sungguh ia adalah musuh yang nyata bagimu, dan beribadahlah kalian pada-Ku, ini (semua) adalah jalan yang lurus".

Syaqiq: Engkau telah berbuat baik, wahai Hatim

Hatim: 7.Aku melihat alam ini maka kulihat tiap satu sama berusaha sekuat tenaga dan bahkan menghinakan dirinya untuk menghasilkan makanan. Oleh karenanya, mereka banyak terjerumus pada keharaman dan syubhat. Aku teringat pada firman-Nya: "Tidak ada hewan satupun di muka bumi kecuali Allah telah memberi rizkinya". Dan juga firman-Nya: "Dan sungguh tiada manusia kecuali apa yang dilakukannya". Sungguh aku mengetahui bahwa aku adalah salah satu hewan di muka bumi, dan rizkiku telah ditanggung oleh Allah swt. Dan aku dituntut dengan melakukan perbuatan dalam mencari akhirat. Maka aku sibukkan dengan Allah.

Syaqiq: Engkau telah berbuat baik

Hatim: 8. Aku melihat pada makhluk ini, maka kudapati sebagian hanya mengandalkan pada harta dan jabatannya, sebagian hanya mengandalkan pada pekerjaan dan keahliannya, dan sebagian lagi mengandalkan pada makhluk sejenisnya. Aku teringat pada firman-Nya: "Dan barangsiapa berpasrah pada Allah, maka Dia yang mencukupinya". Maka aku bertawakkal pada Allah, Allah yang mencukupiku, dan sebaik-baiknya dzat yang dipasrahi adalah Allah.

Syaqiq: Engkau telah berbuat baik, wahai Hatim. Semoga Allah swt selalu menolongmu. Sungguh aku melihat dalam Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan (Alquran) maka kudapati apa yang ada di empat kitab ini tidak keluar dari delapan faidah. Barangsiapa mau mengamalkannya, maka sungguh telah mengamalkan apa yang ada di empat kitab
(Diambil dari kitab Khalasoh At-tashanif karya Hujjatul Islam Al-Ghozali dalam bahasa Persia yang diarabkan oleh Syekh Muhammad Amin Al-Kurdy)

Rabu, 18 Juli 2012

INSPIRASI : Kisah Tunawisma Jujur, Serahkan Uang Rp92 Jt Alasan Santos mengembalikan uang adalah untuk menuruti ajaran ibunya

 SUMBER : VIVAnews
Rabu, 18 Juli 2012, 05:14 Elin Yunita Kristanti, Indrani Putri


VIVAnews -- Pasangan ini sudah kenyang dengan penderitaan. Hidup mereka miskin, tak punya pekerjaan, luntang-lantung di jalanan, dan tinggal di kolong jembatan di Sao Paulo, Brasil. Namun, hati Maranhao Rejaniel de Jesus Silva Santos (36) dan pasangannya, Sandra Regina Domingues luar biasa kaya.

Pada Minggu 8 Juli 2012, sekitar pukul 03.00 dini hari, mereka yang sedang terlelap di kolong Jembatan Azevedo terbangun saat mendengar raungan alarm memekakan telinga. Penasaran, Santos dan Domingues memutuskan untuk mendekati asal alarm, yang ternyata berasal dari sebuah restoran Jepang yang jadi korban perampokan.

Seperti dimuat laman Folha do Sao Paulo, beberapa waktu kemudian, di tengah jalan, Santos menemukan dua koper berisi uang diletakkan di bawah pohon sebelah halte bus. Satu koper berisi uang kertas, lainnya penuh berisi koin. Di dekatnya tergeletak bon dan bukti transaksi kartu kredit.

Dari bukti transaksi, diketahui bahwa uang tersebut dicuri dari restoran Hokkai Sushi yang baru dirampok. Diduga, uang itu sengaja ditinggal oleh para perampoknya karena banyak petugas yang sedang berjaga, dan akan diambil begitu keadaan sudah aman. Uang yang mereka temukan tak tanggung tanggung. Senilai 20.000 real Brazil atau Rp92 juta.

Namun, alih-alih mengambilnya dan menganggap sebagai "rezeki jatuh dari langit", Santos memutuskan untuk mengembalikannya. "Saya langsung terpikir untuk lapor polisi," kata pria yang sehari-hari mengais rezeki dengan memulung sampah plastik.

Kejujurannya juga memukau polisi yang menerima pengembalian itu. "Saat polisi datang dan menjumpai uang sebanyak itu, mereka nyaris tak percaya aku mengembalikannya."

Salah satu pemilik restoran yang dirampok, Daniel Uemura juga heran bukan kepalang saat mengetahui yang menemukan uang miliknya adalah seorang tunawisma.

"Ini merupakan contoh kejujuran dan kerendahan hati. Kami sangat bersyukur masih ada orang seperti dia," ujar Uemura, ketika datang ke kantor polisi untuk mengambil uangnya.

Sebagai ungkapan terima kasih, para pemilik Hokkai Sushi menawarkan dua opsi hadiah pada Santos dan Domingues. Pertama, kedua tunawisma ini bisa bekerja di distributor ikan atau toko ikan milik mereka. Kedua, tiket kembali ke Maranhao, tempat tinggal keluarga Santos yang sudah tidak ditemuinya selama 16 tahun.

Ajaran ibu
Sejak hidup di jalanan, Santos terpisah selama 16 tahun dari keluarga dan terutama Sang Ibu. Namun ajaran perempuan yang melahirkannya itu tetap terngiang di benaknya: jangan mengambil apapun yang bukan hakmu.

Itu juga menjadi alasan Santos untuk mengembalikan uang yang ia temukan itu. "Ibu mengajari saya untuk tidak mencuri dan segera lapor polisi jika melihat ada yang berbuat ilegal."

Ia berharap, ibunya yang tinggal di Maranhao melihat putranya muncul di televisi, saat diwawancara sebagai orang jujur yang jumlahnya makin sedikit di dunia. "Aku ingin Ibu tahu, putranya masih ingat apa yang pernah ia ajarkan."

Latar belakang Santos sebenarnya bukan tunawisma. Dia sempat bekerja di bidang konstruksi di Sao Paulo, menikah, dan punya seorang anak.

Setelah bercerai, dia kehilangan semua harta serta kontak dengan anaknya. Dia pun menggelandang hingga akhirnya bertemu Domingues. Tidak dijelaskan opsi hadiah mana yang akhirnya dipilih Santos dan Domingues, yang baru empat bulan merajut kasih di jalanan.

Jumat, 13 Juli 2012

inspirasi : GADIS KECIL PENDERITA LEUKIMIA BERHATI MULIA


SUMBER :  Zakirman Tanjung
 
Ini adalah kisah nyata tentang seorang gadis kecil yang cantik, yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan berhati lugu dan polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kata terakhir yang ia tinggalkan adalah 'saya pernah datang dan saya sangat penurut'.

Anak ini rela melepaskan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan
sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dia membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dia bagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dia rela melepaskan pengobatannya.

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang 'papa' yang mengadopsinya. Lelaki berumur 30 tahun itu bertempat tinggal di Kecamatan Suang Liu, Kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu, Provinsi She Cuan.

Karena miskin, maka selama ini lelaki itu tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya.

Pada tanggal 30 November 1996, tanggal 20 bulan 10 imlek, adalah saat di mana lelaki itu menemukan anak kecil tersebut di atas hamparan rumput. Di sanalah ia menemukan seorang bayi kecil yang sedang
kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.

Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah, dia berpikir, kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka
kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati lelaki itu memeluk bayi tersebut. Dengan menghela napas dia berkata, "Saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan."

Kemudian lelaki itu memberikan nama Yu Yuan untuk bayi malang itu.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak. Tidak ada air susu ibu (ASI), juga tidak mampu membeli susu bubuk, dia hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka, dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit- sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh.

Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan
bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan.

Di tengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh. Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa. Mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput.

Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.

Pada saat masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya.

Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya, diceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya. Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia.

Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia.

Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mengalami mimisan. Pada suatu pagi, saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Meski dengan berbagai cara, dia tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik.

Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengeluarkan darah dan tidak mau berhenti. Di pahanya mulai bermunculan bintik- bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa.

Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri di kursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak, kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal, memerlukan biaya sebesar $ 300.000. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang.

Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam ke sanak saudara dan teman, ternyata uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu-satunya. Tetapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus, dalam hati Yu Yuan merasa sedih pula. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir di kala kata-kata belum sempat terlontar. "Papa, saya ingin mati."

Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, "Kamu baru berumur 8 tahun, kenapa mau mati?"

"Saya adalah anak yang dipungut. Semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini."

Pada tanggal 18 Juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang
berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga, setelah pulang ke rumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, mengajukan dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto.

Yu Yuan berkata kepada papanya, "Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya, lihatlah foto itu."

Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dia tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto.

Yu Yuan kemudian memakai baju barunya, dengan pose secantik mungkin ia berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar.

Kalau bukan karena seorang wartawan, Chuan Yuan, yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, kisah tentang Yu Yuan mungkin akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin. Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail; cerita tentang anak yang berumur 8 tahun mengatur pemakamannya sendiri, akhirnya menyebar ke seluruh kota Rong Cheng.

Banyak orang yang tergugah pada seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka saling mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang. Hanya dalam waktu
sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese di dunia saja telah terumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi.

Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta-kasih banyak orang. Setelah itu, pengumuman penggalangan dana pun dihentikan, tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah
tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.

Ada seorang teman di email bahkan menulis, "Yu Yuan, anakku yang tercinta. Saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat.

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita di dalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat.

Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min, berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat.

Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata.

Yu Yuan dari lahir sampai maut hendak menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya, air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu- malu memanggil Shii dengan sebutan Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, "Anak yang baik".

Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen di mana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan via email.

Selama dua bulan Yu Yuan menjalani terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan di pencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang
pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah. Pada tanggal 20 Agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan, "Tante, kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya?"

Wartawan tersebut menjawab, "Karena mereka semua adalah orang yang baik hati."

Yu Yuan kemudian berkata, "Tante, saya juga mau menjadi orang yang baik hati."

Wartawan itu pun menjawab, "Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik."

Yu Yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku dan diberikan kepada ke Fu Yuan. "Tante ini adalah surat wasiat saya."

Fu Yuan kaget sekali ketika membuka dan membaca surat tersebut. Ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang
menghadapi sebuah kematian dan di atas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan 'Tante Fu Yuan' dan diakhiri dengan 'Selamat tinggal Tante Fu Yuan'.

Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat 'Tante Wartawan'. Di belakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang-orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar.

"Sampai jumpa, Tante(!), kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga pada Pemimpin Palang Merah, setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya, agar mereka lekas sembuh."

Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya. "Saya pernah datang, saya sangat patuh", demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan.

Pada tanggal 22 Agustus, karena pendarahan di pencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk
bertahan hidup. Dokter dan perawat pun
secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat.

Dokter dan para perawat pun ikut menangis. Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi, mereka tetap tidak bisa membantunya.

Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini; melihat malaikat kecil yang cantik dan suci bagaikan air bening,
sungguh telah pergi ke dunia lain.

Di Kecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka-cita dengan karangan bunga yang ditumpuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan "Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil di atas
langit, kepakkanlah kedua sayapmu. Terbanglah...."

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Di depan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa-mama Yu
Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang
diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Di depan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Di atas batu nisannya tertulis, "Aku pernah datang dan aku sangat patuh" (30
November 1996 - 22 Agustus 2005). Dan, di belakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan.

Dua kalimat terakhir adalah di saat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia.

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita leukimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian dan Wang Jie.

Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari
keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian. Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil
melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis di raut wajah anak tersebut. "Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda; terimakasih Dik Yu Yuan, kamu pasti sedang melihat kami di atas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata 'Aku pernah datang dan aku sangat patuh'."